Portal Lintas Berita — Lombok Barat, Kepala Puskesmas Perampuan, Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Ns. Akmal Rosamali, S.Kep., M.Kes, menyampaikan bahwa Puskesmas Perampuan terus melakukan pengembangan layanan kesehatan guna menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
“Selain pelayanan rawat jalan sebagai layanan dasar, Puskesmas Perampuan juga mengembangkan layanan kesehatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satu layanan unggulan yang telah dilaksanakan adalah Vision Center atau layanan polimata,” ujar Akmal Rosamali, Selasa, 6 Januari 2026.
Menurut Akmal Rosamali, layanan kesehatan mata tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan pemeriksaan dan penanganan gangguan penglihatan secara lebih mudah dan terjangkau.
“Puskesmas Perampuan melayani penyakit mata, termasuk gangguan penglihatan atau refraksi. Alhamdulillah, masyarakat mendapatkan kemudahan dari sisi akses dan pelayanan. Pendaftaran dapat dilakukan secara langsung maupun daring, tersedia layanan offline dan online, bahkan kacamata hasil pemeriksaan dapat diantar ke rumah,” jelas Akmal Rosamali.
Akmal Rosamali mengungkapkan bahwa kasus gangguan penglihatan saat ini cukup tinggi, terutama akibat penggunaan gawai seperti telepon seluler dan laptop yang telah dikenalkan sejak usia dini.
“Gangguan penglihatan tidak hanya ditemukan pada usia lanjut, tetapi juga banyak terjadi pada anak SD, SMP, remaja, hingga usia dewasa. Dampak penggunaan gawai terhadap kesehatan mata sangat terasa,” kata Akmal Rosamali.
Puskesmas Perampuan juga pernah bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan lembaga terkait dalam program pemeriksaan visus mata bagi anak sekolah.
“Program tersebut memberikan pemeriksaan mata sekaligus pembagian kacamata gratis bagi anak sekolah yang membutuhkan,” tambah Akmal Rosamali.
Selain layanan kesehatan mata, Puskesmas Perampuan terus mengembangkan layanan kesehatan lain dengan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 tentang Integrasi Layanan Kesehatan Primer.
“Pelayanan diberikan mulai dari bayi, anak sekolah, remaja, usia dewasa, hingga lansia. Sebagian layanan bersifat gratis melalui program pemerintah dan sebagian berbayar sesuai ketentuan, termasuk layanan yang ditanggung BPJS Kesehatan,” terang Akmal Rosamali.
Dalam bidang gizi, Puskesmas Perampuan terus melakukan upaya penanganan gizi kurang dan stunting. Akmal Rosamali menyampaikan bahwa angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Perampuan menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun.
“Alhamdulillah, angka stunting di wilayah Puskesmas Perampuan terus menurun. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat memberikan dukungan melalui program pemberian susu PKMK yang telah berjalan hampir empat bulan dan saat ini memasuki tahap kedua,” ungkap Akmal Rosamali.
Menurut Akmal Rosamali, stunting
merupakan dampak akhir dari persoalan gizi yang terjadi dalam jangka panjang.
“Perbaikan terlihat pada balita underweight dan wasting yang mengalami kenaikan berat badan. Pada balita stunting juga terjadi kenaikan panjang dan tinggi badan, meskipun status gizi masih dalam kategori stunting. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan angka stunting secara bertahap,” jelas Akmal Rosamali.
Namun demikian, Akmal Rosamali menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan proses panjang dan komitmen bersama.
“Penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses berkelanjutan serta sinergi semua pihak, termasuk dukungan penuh dari Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat,” tegas Akmal Rosamali.
Lebih lanjut disampaikan bahwa penyebab stunting tidak hanya berasal dari kekurangan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh, penyakit infeksi, serta kondisi lingkungan.
“Hasil skrining menunjukkan adanya anak dengan stunting akibat penyakit seperti tuberkulosis, ISPA, penyakit kulit, serta faktor lingkungan yang kurang sehat, seperti rumah tanpa ventilasi memadai dan keberadaan kandang ternak di sekitar tempat tinggal,”
paparnya.
Faktor perilaku merokok di lingkungan keluarga juga menjadi perhatian serius.
“Edukasi terus diberikan agar masyarakat tidak merokok di sekitar ibu hamil dan anak-anak,” ujar Akmal Rosamali.
Sebagai penutup, Akmal Rosamali menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan pendekatan intervensi spesifik dan sensitif secara bersamaan.
“Tenaga kesehatan hanya mampu melakukan intervensi teknis sekitar 30 persen. Selebihnya membutuhkan peran aktif masyarakat melalui pola asuh yang baik, perilaku hidup bersih dan sehat, serta lingkungan yang mendukung. Dengan sinergi dan komitmen bersama, penurunan stunting dapat terus diwujudkan,” pungkas Akmal Rosamali.













