Opini – Dalam perjalanan hidup, tak semua hal berjalan sesuai harapan. Ada masa di mana beban terasa begitu berat, namun pilihan untuk berhenti sering kali bukanlah jalan keluar. Dalam kondisi apa pun, kuat atau tidak kuat, semuanya tetap harus dijalani.
Realitas kehidupan menuntut setiap individu untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Ketika dukungan tak selalu hadir dan perhatian tak selalu datang dari sekitar, satu hal menjadi jelas: jika bukan diri sendiri yang peduli, maka siapa lagi yang akan melakukannya.
Dr. I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya menegaskan bahwa sikap bertahan di tengah tekanan adalah bentuk kekuatan paling mendasar yang dimiliki manusia.
“Dalam hidup, kita tidak selalu berada dalam kondisi siap. Namun keadaan mengajarkan bahwa mau tidak mau, setiap tantangan harus dihadapi. Kepedulian terhadap diri sendiri menjadi kunci utama untuk tetap bertahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketangguhan bukan diukur dari seberapa kuat seseorang terlihat di luar, melainkan dari kemampuannya untuk terus melangkah meski berada dalam kondisi terlemah. Menurutnya, banyak orang yang tampak baik-baik saja, padahal di dalamnya sedang berjuang keras melawan keadaan.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa keberanian untuk tidak menyerah adalah fondasi utama dalam menjalani hidup. Bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mampu bertahan dan bangkit ketika dihadapkan pada situasi tersulit.
Karena pada akhirnya, hidup memang tidak selalu ramah, namun dengan kepedulian pada diri sendiri, setiap orang memiliki peluang untuk melewati masa sulit dan menatap hari esok dengan harapan baru.













