Mataram, NTB – Upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak terus diperkuat di wilayah Kecamatan Ampenan. Salah satunya melalui kegiatan monitoring dan edukasi anti perundungan (bullying) yang dilaksanakan oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kelurahan Ampenan Tengah, Komando Rayon MIliter (Koramil) jajaran Komando Distrik Militer (Kodim) 1606/Mataram, Serka Agus Subiantoro di SD Negeri 34 Ampenan, Jl. Tanggul II Gg. Melati Sukaraja Ampenan, Jum’at (18/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 Wita tersebut menjadi bagian dari langkah preventif untuk mencegah munculnya tindakan perundungan di lingkungan sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan nilai saling menghormati, empati, dan kepedulian sosial di kalangan siswa sejak usia dini.
Menumbuhkan Kesadaran dan Kepedulian Sejak Bangku Sekolah
Perundungan tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat mengganggu proses belajar serta perkembangan karakter anak. Oleh karena itu, keterlibatan berbagai pihak, termasuk aparat kewilayahan, dinilai penting dalam membangun kesadaran bersama mengenai bahaya bullying.
Dalam kegiatan tersebut, Serka Agus Subiantoro berinteraksi langsung dengan para siswa dan tenaga pendidik. “Kehadiran kami menjadi bentuk dukungan TNI terhadap terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat, aman, serta bebas dari tindakan kekerasan verbal maupun fisik,” Terangnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SD Negeri 34 Ampenan, Nur Hikmawati, para guru, serta seluruh siswa dan siswi yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Suasana berlangsung hangat dan komunikatif, sehingga pesan-pesan mengenai pentingnya menghargai sesama dapat diterima dengan baik oleh para peserta.
Sinergi Sekolah dan Babinsa Ciptakan Lingkungan Positif
Kepala SD Negeri 34 Ampenan menyambut baik keterlibatan Babinsa dalam mendukung program pembinaan karakter peserta didik. “Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan aparat kewilayahan menjadi kunci dalam membentuk generasi yang berakhlak, disiplin, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya,” ucap Nur Hikmawati.
Sementara itu, Serka Agus Subiantoro menegaskan, “Pencegahan perundungan harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membiasakan sikap saling menghormati, tidak mengejek teman, serta berani melaporkan apabila melihat tindakan yang merugikan orang lain,” Tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa semakin memahami pentingnya menjaga hubungan yang harmonis di lingkungan sekolah. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang aman bagi tumbuh kembang anak-anak dalam meraih masa depan yang lebih baik.













