“Kami mengingatkan para petani mengenai pentingnya pengawasan terhadap potensi hama daun, penyiangan gulma pengganggu, serta pemeliharaan saluran drainase di sekitar tanaman agar pasokan air tetap seimbang menjelang fase generatif, demi memastikan hasil panen yang maksimal untuk mendukung program ketahanan pangan nasional,” jelas Ipda Selamet Riadi, S.H., M.H.
Persiapan Fase Generatif dan Saluran Drainase
Lebih lanjut, dalam dialog tersebut petugas juga menekankan pentingnya proses penyiangan gulma pengganggu secara berkala. Keberadaan rumput liar atau gulma di sekitar pohon jagung dapat merebut nutrisi dan pupuk yang seharusnya diserap utuh oleh tanaman utama. Oleh karena itu, pembersihan lahan secara rutin menjadi hal yang tidak boleh diabaikan oleh para pemilik lahan.
Hal lain yang tidak kalah krusial adalah pengelolaan sistem irigasi atau pemeliharaan saluran drainase di sekitar area perkebunan. Pengaturan drainase yang baik berfungsi untuk memastikan pasokan air ke tanaman tetap seimbang, terutama saat jagung mulai memasuki fase generatif atau masa pembungaan dan pembuahan. Keseimbangan air yang terjaga dengan baik akan mencegah pembusukan akar akibat genangan, sekaligus menghindari kekeringan yang dapat membuat bulir jagung tidak terisi dengan sempurna.
Melalui pendampingan yang intensif dan edukasi yang konsisten dari pihak kepolisian ini, diharapkan hasil panen jagung di Desa Karang Bongkot dapat melimpah. Keberhasilan panen di tingkat desa ini nantinya akan berkontribusi langsung dalam menjaga kestabilan pasokan pangan daerah sekaligus menyokong program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.













