Kepolisian Sektor (Polsek) Pekat kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pengamanan aksi unjuk rasa Aliansi Petani Tebu Kecamatan Pekat di kawasan PT Sukses Mantap Sejahtera (PT SMS), Rabu (8/7/2026). Berkat pengamanan yang humanis dan pendekatan persuasif yang dipimpin langsung Kapolsek Pekat IPTU Jubaidin, aksi yang sempat diwarnai penutupan akses jalan menuju perusahaan itu berakhir damai setelah tercapainya kesepakatan awal melalui dialog antara petani dan manajemen perusahaan.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA tersebut diikuti sekitar 50 orang massa yang dikoordinatori Nasuhi, S.Sos. dan Tamrin Hadu. Massa membawa satu unit sound system, empat kendaraan roda empat, dan 15 sepeda motor sebagai sarana penyampaian aspirasi.
Dalam aksi tersebut, para petani menyampaikan tiga tuntutan utama kepada PT SMS, yakni meminta kenaikan harga pembelian tebu dari Rp550.000 menjadi Rp600.000 per ton, penurunan biaya pemanfaatan lahan kemitraan on hand dari Rp1.500.000 menjadi Rp500.000 per hektare agar disamakan dengan lahan HGU, serta meminta kepastian agar lahan kemitraan yang telah dikelola petani di Desa Doropeti tidak dialihkan ke wilayah lain.
Sekitar pukul 10.00 WITA, massa bergerak menuju kawasan PT SMS dan melakukan penutupan sementara akses jalan sebagai bentuk penyampaian aspirasi. Meski demikian, situasi tetap terkendali berkat langkah cepat personel Polsek Pekat yang mengedepankan pendekatan humanis, komunikasi, dan pengamanan secara terbuka maupun tertutup sehingga aksi berlangsung aman tanpa tindakan anarkis.
Dalam dialog tersebut, General Manager Plantation PT SMS, Bahtiar, menjelaskan bahwa usulan kenaikan harga tebu masih dalam pembahasan di tingkat manajemen dan dipastikan akan mengalami penyesuaian pada musim giling tahun 2026. Sementara terkait biaya pemanfaatan lahan, perusahaan menyatakan akan melakukan evaluasi guna penyesuaian tarif serta menyeragamkan biaya kemitraan setelah proses giling selesai.
Koordinator aksi Nasuhi meminta agar komitmen perusahaan dituangkan dalam dokumen tertulis sebagai bentuk kepastian bagi petani. Sementara Tamrin Hadu berharap perusahaan mempertimbangkan kembali rencana relokasi lahan kelompok tani dan memberikan kesempatan kepada petani untuk tetap memanen tebu yang telah mereka tanam.
Manager Humas PT SMS, Muhari, menyampaikan bahwa seluruh aspirasi petani akan diteruskan kepada pimpinan perusahaan untuk dibahas lebih lanjut. Ia juga memastikan perusahaan memiliki komitmen serius dalam mengevaluasi harga pembelian tebu maupun biaya pemanfaatan lahan.











